Keinovatifan Guru, Sebuah Keniscayaan

Pendidikan tidak bisa lepas dari guru sebagai bagian dari komponen utama yang menopang keberlangsungan proses pendidikan itu sendiri. Profesi guru sangatlah strategis dan mulia. Guru sebagai profesi adalah ibu dari segala profesi. Dari rahim gurulah akan lahir banyak profesi lainnya.   Karena tugasnya yang sangat signifikan tersebut, guru tidak hanya mempengaruhi kecerdasan peserta didik semata. Tugas inti guru adalah menjauhkan kebodohan dan  menyelamatkan anak bangsa dari sifat dan perilaku buruk yang akan berdampak buruk pula pada masa depan mereka.

      Peran dan tugas guru sangat penting, sehingga tidak bisa diamanahkan kepada  orang yang tidak memiliki kompetensi sebagai seorang guru. Lembaga penelitian The Social Progress Imperative merilis hasil penelitiannya tahun 2016 yang dimuat pada laman tentik.com yang menyebutkan bahwa Finlandia merupakan salah satu dari sepuluh negara dengan tingkat pendidikan terbaik di dunia. Diketahui bahwa sekolah-sekolah di negara Finlandia dikelola oleh orang-orang ahli pendidikan dan sangat profesional. Bahkan syarat menjadi seorang guru di Finlandia harus menempuh pendidikan minimal S2 di bidang pendidikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan diserahkan kepada guru yang ahli atau kompeten yang berimplikasi pada keberhasilan pendidikan. Hal ini berarti guru secara ideal adalah profesi dengan keahlian atau kompetensi khusus yang melekat pada dirinya.

     Seiring berjalannya era globalisasi yang ditunjukkan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdampak pula dengan kompetensi yang harus terus ditingkatkan oleh guru. Globalisasi dan modernisasi telah menyusup ke seluruh sendi kehidupan termasuk dunia pendidikan. Kalangan akademisi khususnya guru dipaksa oleh perubahan zaman yang cepat ini dengan perubahan paradigma dalam pendidikan. Paradigma lama dalam pembelajaran yang ditunjukkan dengan teacher centered telah berubah dengan paradigma baru yang ditunjukkan dengan student centered. Paradigma lama bahwa belajar dibatasi oleh tembok kelas, hari ini telah tergantikan dengan paradigma baru bahwa belajar tidak harus berada di kelas fisik tapi bisa dilakukan dalam kelas-kelas virtual atau kelas maya melalui media internet.

   Itulah sebagian paradigma baru yang bermunculan seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya perkembangan pesat pada teknologi informasi dan komputer (TIK). Implikasi dari perkembangan TIK ini bagi guru adalah ia akan tertinggal jika masih menggunakan cara-cara lama dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dua dekade terakhir ini terus bermunculan metode maupun pendekatan baru dalam pembelajaran, baik yang menggunakan TIK maupun yang tidak menggunakan TIK. Seperti sebuah buku yang ditulis oleh Howard Gardner yang berjudul Multiple Intelligences In The Classroom adalah salah satu contoh cara pandang baru dalam memahami kecerdasan manusia yang kemudian dijadikan acuan dalam strategi belajar mengajar oleh para guru. Dan juga buku Accelerated Learning for The 21st Century yang ditulis oleh Collin Rose dan Malchom J Nicholl merupakan salah satu bagian dari inovasi pendidikan sebagai dampak dari era globalisasi ini.

     Munculnya penawaran sekolah atau kuliah jarak jauh dimana antara peserta didik dan guru atau antara mahasiswa dan dosen terpisah jarak yang jauh, bahkan sangat jauh antara satu negara dengan negara lain, adalah contoh inovasi baru dalam pembelajaran akibat cepatnya TIK masuk ke sekolah atau perguruan tinggi. Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa cara belajar di dunia maya (internet) tidak dapat menggantikan sepenuhnya pembelajaran langsung tatap muka antara peserta didik dan guru. Namun agar tetap bisa mengikuti perkembangan teknologi maka dikenalkan metode campuran  yang disebut dengan blended learning yakni menggabungkan antara pembelajaran langsung tatap muka dengan pembelajaran tidak langsung melalui media internet.

      Guru dengan sederet kompetensi yang  dimilikinya sekarang harus mampu beradaptasi dengan tuntutan inovasi dalam pembelajaran. Guru tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional ketika berhadapan dengan peserta didik yang hari ini telah dipenuhi dengan setumpuk kemampuan yang cukup dalam teknologi informasi dan komputer. Keinovatifan guru saat ini dipandang sebagai sebuah kompetensi yang sangat mendukung bagi tercapainya tujuan pembelajaran.

Keinovatifan diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan kualitas hidup. Dalam hal ini keinovatifan guru dapat berupa menciptakan strategi pembelajaran yang baru atau orisinil (hasil karya sendiri), atau bisa juga berupa modifikasi dari strategi yang sudah ada sehingga menciptakan bentuk baru yang dapat meningkatkan sejumlah pengetahuan dan pemahaman peserta didik.

Memiliki guru yang inovatif merupakan keinginan semua sekolah karena disitulah salah satu keunggulan akan muncul. Terlebih bagi sekolah swasta, memiliki guru yang terampil, inovatif, dan kreatif adalah modal dasar agar sekolah tetap bisa bertahan hidup. Umumnya sekolah swasta akan dicari oleh masyarakat karena adanya keunggulan tertentu yang ditawarkan. Termasuk di dalamnya program-program sekolah yang lebih berbeda dan menarik (secara positif) daripada sekolah lain menjadi daya tarik tersendiri bagi calon peserta didik baru.

Menjadi sebuah keniscayaan bahwa di era global ini guru harus terus memperkaya pengetahuan, ketrampilan, dan keinovatifannya. Guru yang berkualitas berbanding lurus dengan peserta didik yang berkualitas. Guru harus terus berinovasi.  Keinovatifan guru adalah salah satu kunci agar mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didiknya.

Oleh: Tulus Suasto, M.Pd