Kolaborasi Guru dengan Guru Rumah

Utris Sutrisna, S.Pd

(Guru SMAIT Mentari Ilmu)

Dunia Pendidikan pasti sangat berkaitan dengan kurikulum, karena kurikulum merupakan “jantungnya pendidikan”. Kenapa muncul istilah tersebut? Karena kurikulum merupakan pedoman dari segala bentuk layanan pendidikan yang akan diberikan kepada siswa serta pedoman bagi pendidik untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan baik oleh negara maupun oleh suatu lembaga pendidikan.

Selain kurikulum, guru juga memiliki peran yang sentral dalam pengimplementasian kurikulum yang tujuannya tentu untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga guru diberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang sangat besar oleh pemerintah bahkan oleh masyarakat terkait dengan hal tersebut. Apa saja peran dari seorang guru? Guru memliki peran sebagai pendidik, pengajar, motivator, fasilitator, coaching, menjadi suri teladan bagi anak didik bukan hanya di sebuah lembaga pendidikan melainkan dalam lingkungan masyarakatnya, pemberi nasihat serta melakukan evaluasi perkembangan anak didik baik secara kognitif, psikomotorik dan afektif dan masih banyak lagi. Belum lagi jika kita lihat guru dari sudut pandang islam yaitu guru bukan hanya sebagai penyampai ilmu saja melainkan sebagai pengajak kepada jalan yang diridhoi Allah SWT sehingga guru mendapatkan predikat sebagai profesi yang begitu mulia dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam islam.

Sebuah keharusan bagi siapapun yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi seorang guru ataupun orang yang memilih profesi sebagai guru untuk terus meningkatkan kualitas diri, terus belajar, tidak berpuas diri akan ilmu yang sudah dimiliki serta berperan aktif dalam masyarakat dengan segala kompetensinya.

Melihat peran dan tanggung jawab yang begitu besar terkait pendidikan yang dipikul oleh seorang guru maka dirasa tidak adil kalau peran dan tanggung jawab besar itu hanya diambil oleh sebagian kecil saja dari kita yang memilih profesi menjadi guru. Karena sejatinya guru mempunyai artian yang luas seperti yang pernah dikatakan oleh bapak pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara yaitu “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah. Jadikan setiap orang sebagai guru”. Dari kalimat ini kita dapat mengambil hikmah bahwa setiap individu mempunyai peran untuk memberikan bekal terbaik untuk anak-anak dalam hal pendidikan dan pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas serta lembaga formal saja melainkan bisa dilakukan di mana saja termasuk di dalam rumah.

Keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pendidikan seorang anak terutama orang tua, karena orang tua merupakan pemberi pondasi pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Sehingga orang tua menjadi guru utama bagi seorang anak, seperti ungkapan dalam bahasa arab yang sering kita dengar yaitu Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Artinya: Ibu adalah madrasah atau pendidik pertama anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya”. Meski yang tersurat dalam ungkapan tersebut adalah ibu namun ayah juga harus berperan dalam mendidik anak seperti layaknya sebuah sekolah, ayah di ibaratkan sebagai kepala sekolah dan ibu adalah gurunya. Oleh karena itu, orang tua dapat kita sebut juga dengan guru rumah. Sebagai mana guru merupakan profesi yang menuntut seseorang harus memiliki sikap profesionalisme yang baik kemudian juga membutuhkan waktu dan persyaratan-persyaratan tertentu untuk bisa memberikan layanan pendidikan bagi seorang murid maka guru rumah pun harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk memberikan pendidikan untuk anak-anaknya yang tidak terbatas waktu karena harus mendidik anak-anak selama 24 jam dalam seminggu.

Guru rumah juga mempunyai kewajiban untuk belajar tentang ilmu parenting sebagai bentuk ikhtiar maksimal dalam memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya dan juga sebagai bentuk pertanggung jawaban dihadapan Allah kelak. Apa lagi kita ketahui bersama bahwa belum ada universitas di Indonesia yang khusus membuka program studi tentang parenting. Kemudian bagaimana guru rumah bisa belajar tentang parenting? Guru rumah dapat belajar secara mandiri dengan membaca artikel ataupun informasi-informasi seputar parenting baik pada media cetak, media digital, buku dsb. Guru rumah juga bisa mengikuti seminar-seminar parenting yang diadakan secara online maupun offline serta bisa juga berkolaborasi dengan guru di sekolah semisal wali kelas mengadakan kegiatan “Silaturahmi Kelas” yang di dalamnya berisikan kegiatan membahas problematik anak-anak dari sudut pandang guru dengan guru rumah yang kemudian sama-sama mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Guru rumah juga bisa mendapatkan pembelajaran parenting dengan cara berbagi pengalaman dengan sesama guru rumah yang lain dalam kelompok-kelompok kecil di sekitar rumahnya masing-masing yang di inisiasi bisa oleh guru ataupun guru rumah itu sendiri. Sehingga jika pemahaman dan konsep dalam mendidik anak sudah sama antara guru dengan guru rumah maka tujuan dari pendidikan yang menginginkan generasi yang cerdas, beriman dan berahlak mulia bisa terwujud.

Referensi :

  • Juhji. Peran Urgen Guru Dalam Pendidikan, 2016. STUDIA DIDAKTIKA Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol.10 No.1 Tahun 2016 ISSN 1978-8169.
  • Azizah K.,Fuadi M.A.Profesionalisme Guru dalam Islam: Kajian Konseptual Hadits Tarbawi. 2021. DOI:10.25299/ al-thariqah.2021.vol6(1).6244.
  • Christina, Ani. 2013. Catatan Seorang Konselor Sekolah menjadi Orang Tua. Sidoarjo: Filla Press